Tokoh-Tokoh Fatwa Behavioristik

1.Edward Lee Thorndike (1874 – 1949)
Menurut Thorndike, mencar ilmu merupakan proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus yakni apa yang merangsang terjadinya aktivitas mencar ilmu ibarat pikiran, perasaan atau hal-hal lain yang sanggup ditangkap melalui alat indera. Respon yakni reaksi yang dimunculkan penerima didik ketika belajar, juga sanggup berupa pikiran, perasaan, gerakan atau tindakan. Teori Thorndike ini sering disebut teori koneksionisme. Prinsip pertama teori koneksionisme yakni mencar ilmu suatu aktivitas membentuk asosiasi (connection) antara kesan panca indera dengan kecenderungan bertindak. Misalnya, bila anak merasa bahagia atau tertarik pada aktivitas jahit-menjahit, maka ia akan cenderung mengerjakannya. Apabila hal ini dilaksanakan, ia merasa puas dan mencar ilmu menjahit akan menghasilkan prestasi memuaskan.

Dengan adanya pandangan-pandangan Thorndike yang memperlihatkan derma cukup besar di dunia pendidikan tersebut, maka ia dinobatkan sebagai salah satu tokoh penggagas dalam psikologi pendidikan. Selain itu, bentuk mencar ilmu yang paling khas baik pada binatang maupun pada insan menurutnya yakni “trial and error learning atau selecting and connecting learning” dan berlangsung berdasarkan hukum-hukum tertentu.

Menurut Thorndike terdapat tiga aturan mencar ilmu yang utama yaitu :
1. The Law of Effect (Hukum Akibat).
Hukum akhir yaitu hubungan stimulus respon yang cenderung diperkuat bila karenanya menyenangkan dan cenderung diperlemah bila karenanya tidak memuaskan. Hukum ini menunjuk pada makin besar lengan berkuasa atau makin lemahnya koneksi sebagai hasil perbuatan. Suatu perbuatan yang disertai akhir menyenangkan cenderung dipertahankan dan lain kali akan diulangi. Sebaliknya, suatu perbuatan yang diikuti akhir tidak menyenangkan cenderung dilarang dan tidak akan diulangi.
Koneksi antara kesan panca indera dengan kecenderungan bertindak sanggup menguat atau melemah, tergantung pada “buah” hasil perbuatan yang pernah dilakukan. Misalnya, bila anak mengerjakan PR, ia mendapat muka bagus gurunya. Namun, bila sebaliknya, ia akan dihukum. Kecenderungan mengerjakan PR akan membentuk sikapnya.
2. The Law of Exercise (Hukum Latihan)
Hukum latihan yaitu semakin sering tingkah laris diulang/dilatih (digunakan), maka asosiasi tersebut akan semakin kuat. Dalam hal ini, aturan latihan mengandung dua hal: The Law of Use : hubungan-hubungan atau koneksi-koneksi akan menjadi bertambah kuat, kalau ada latihan yang sifatnya lebih memperkuat hubungan itu. The Law of Disue : hubungan-hubungan atau koneksi-koneksi akan menjadi bertambah lemah atau terlupa kalau latihan-latihan dihentikan, lantaran sifatnya yang melemahkan hubungan tersebut.
3. The Law of Readiness (Hukum Kesiapan).
Hukum kesiapan yaitu semakin siap suatu organisme memperoleh suatu perubahan tingkah laku, maka pelaksanaan tingkah laris tersebut akan menjadikan kepuasan individu sehingga asosiasi cenderung diperkuat.
Prinsip pertama teori koneksionisme yakni mencar ilmu merupakan suatu aktivitas membentuk asosiasi (connection) antara kesan panca indera dengan kecenderungan bertindak. Misalnya, bila anak merasa bahagia atau tertarik pada aktivitas jahit-menjahit, maka ia akan cenderung mengerjakannya. Apabila hal ini dilaksanakan, ia merasa puas dan mencar ilmu menjahit akan menghasilkan prestasi memuaskan.

2. John Watson (1878 – 1958)
Watson yakni seorang behavioris murni, kajiannya perihal mencar ilmu disejajarkan dengan ilmu-ilmu lain seperi Fisika atau Biologi yang sangat berorientasi pada pengalaman empirik semata, yaitu sejauh mana sanggup diamati dan diukur.
Menurut Watson, mencar ilmu merupakan proses interaksi antara stimulus dan respon, namun stimulus dan respon tersebut harus sanggup diamati dan diukur. Kaprikornus perubahan-perubahan mental dalam diri seseorang selama proses belajar, tidak perlu diperhitungkan lantaran tidak sanggup diamati.


Pandangan utama Watson:
1. Psikologi mempelajari stimulus dan respons (S-R Psychology). Yang dimaksud dgn stimulus yakni semua obyek di lingkungan, termasuk juga perubahan jaringan dalam tubuh. Respon yakni apapun yang dilakukan sebagai balasan terhadap stimulus, mulai dari tingkat sederhana sampai tingkat tinggi, juga termasuk pengeluaran kelenjar. Respon ada yang overt dan covert, learned dan unlearned.

2. Tidak mempercayai unsur herediter (keturunan) sebagai penentu perilaku. Perilaku insan yakni hasil mencar ilmu sehingga unsur lingkungan sangat penting (lihat pandangannya yang sangat ekstrim menggambarkan hal ini pada Lundin, 1991 p.173). Dengan demikian pandangan Watson bersifat deterministik, sikap insan ditentukan oleh faktor eksternal, bukan berdasarkan free will.

3. Dalam kerangka mind-body, pandangan Watson sederhana saja. Baginya, mind mungkin saja ada, tetapi bukan sesuatu yang dipelajari ataupun akan dijelaskan melalui pendekatan ilmiah. Kaprikornus bukan berarti bahwa Watson menolak mind secara total. Ia hanya mengakui body sebagai obyek studi ilmiah. Penolakan dari consciousness, soul atau mind ini yakni ciri utama behaviorisme dan kelak dipegang besar lengan berkuasa oleh para tokoh anutan ini, meskipun dalam derajat yang berbeda-beda. [Pada titik ini sejarah psikologi mencatat pertama kalinya semenjak jaman filsafat Yunani terjadi penolakan total terhadap konsep soul dan mind. Tidak heran bila pandangan ini di awal mendapat banyak reaksi keras, namun dengan berjalannya waktu behaviorisme justru menjadi populer.]

4. Sejalan dengan fokusnya terhadap ilmu yang obyektif, maka psikologi harus memakai metode empiris. Dalam hal ini metode psikologi yakni observation, conditioning, testing, dan ekspresi reports.

5. Secara sedikit demi sedikit Watson menolak konsep insting, mulai dari karakteristiknya sebagai refleks yang unlearned, hanya milik belum dewasa yang tergantikan oleh habits, dan akhirnya ditolak sama sekali kecuali simple reflex ibarat bersin, merangkak, dan lain-lain.

6. Sebaliknya, konsep learning yakni sesuatu yang vital dalam pandangan Watson, juga bagi tokoh behaviorisme lainnya. Habits yang merupakan dasar sikap yakni hasil mencar ilmu yang ditentukan oleh dua aturan utama, recency dan frequency. Watson mendukung conditioning respon Pavlov dan menolak law of effect dari Thorndike. Maka habits yakni proses conditioning yang kompleks. Ia menerapkannya pada percobaan phobia (subyek Albert). Kelak terbukti bahwa teori mencar ilmu dari Watson punya banyak kekurangan dan pandangannya yang menolak Thorndike salah.

7. Pandangannya perihal memory membawanya pada kontradiksi dengan William James. Menurut Watson apa yang diingat dan dilupakan ditentukan oleh seringnya sesuatu digunakan/dilakukan. Dengan kata lain, sejauh smana sesuatu dijadikan habits. Faktor yang memilih yakni kebutuhan.

8. Proses thinking and speech terkait erat. Thinking yakni subvocal talking. Artinya proses berpikir didasarkan pada keterampilan berbicara dan sanggup disamakan dengan proses bicara yang ‘tidak terlihat’, masih sanggup diidentifikasi melalui gerakan halus ibarat gerak bibir atau gesture lainnya.

9. Sumbangan utama Watson yakni ketegasan pendapatnya bahwa sikap sanggup dikontrol dan ada aturan yang mengaturnya. Kaprikornus psikologi yakni ilmu yang bertujuan meramalkan perilaku. Pandangan ini dipegang terus oleh banyak hebat dan diterapkan pada situasi praktis. Dengan penolakannya pada mind dan kesadaran, Watson juga membangkitkan kembali semangat obyektivitas dalam psikologi yang membuka jalan bagi riset-riset empiris pada eksperimen terkontrol.

3.Clark L. Hull (1884 – 1952)
Clark Hull juga memakai variable hubungan antara stimulus dan respon untuk menjelaskan pengertian belajar. Menurut Clark Hull, semua fungsi tingkah laris bermanfaat terutama untuk menjaga biar organisme tetap bertahan hidup. Oleh lantaran itu Hull menyampaikan kebutuhan biologis (drive) dan pemuasan kebutuhan biologis (drive reduction) yakni penting dan menempati posisi sentral dalam seluruh aktivitas manusia, sehingga stimulus (stimulus dorongan) dalam belajarpun hampir selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis, walaupun respon yang akan muncul mungkin sanggup berwujud macam-macam.

Prinsip utama teorinya :
Reinforcement yakni faktor penting dalam mencar ilmu yang harus ada. Namun fungsi reinforcement bagi Hull lebih sebagai drive reduction daripada satisfied factor.
Dalam mempelajari hubungan S-R yang diperlu dikaji yakni peranan dari intervening variable (atau yang juga dikenal sebagai unsure O (organisma)). Faktor O yakni kondisi internal dan sesuatu yang disimpulkan (inferred), efeknya sanggup dilihat pada faktor R yang berupa output. Karena pandangan ini Hull dikritik lantaran bukan behaviorisme sejati. Proses mencar ilmu gres terjadi sesudah keseimbangan biologis terjadi. Di sini tampak efek teori Darwin yang mementingkan penyesuaian biologis organism.

4. Edwin Guthrie
Azas mencar ilmu Guthrie yang utama yakni aturan kontiguiti. Yaitu adonan stimulus-stimulus yang disertai suatu gerakan. Guthrie juga memakai variabel hubungan stimulus dan respon untuk menjelaskan terjadinya proses belajar. Belajar terjadi lantaran gerakan terakhir yang dilakukan mengubah situasi stimulus sedangkan tidak ada respon lain yang sanggup terjadi.
Hubungan antara stimulus dan respon bersifat sementara, sehingga dalam aktivitas mencar ilmu penerima didik perlu diberi stimulus dengan sering biar hubungan stimulus dan respon bersifat lebih besar lengan berkuasa dan menetap. Guthrie juga percaya bahwa eksekusi (punishment) memegang peranan penting dalam proses belajar. Hukuman yang diberikan pada dikala yang sempurna akan bisa mengubah tingkah laris seseorang.

5. Burrhus Frederic Skinner (1904 – 1990)
Konsep yang dikemukanan Skinner perihal mencar ilmu lebih mengungguli konsep para tokoh sebelumnya. Ia bisa menjelaskan konsep mencar ilmu secara sederhana, namun lebih komprehensif. Menurut Skinner hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi dengan lingkungannya, yang kemudian menjadikan perubahan tingkah laku, tidaklah sesederhana yang dikemukakan oleh tokoh tokoh sebelumnya. 

Menurutnya respon yang diterima seseorang tidak sesederhana itu, lantaran stimulus-stimulus yang diberikan akan saling berinteraksi dan interaksi antar stimulus itu akan mempengaruhi respon yang dihasilkan. Respon yang diberikan ini mempunyai konsekuensi-konsekuensi. Konsekuensi-konsekuensi inilah yang nantinya mempengaruhi munculnya perilaku.

Oleh lantaran itu dalam memahami tingkah laris seseorang secara benar harus memahami hubungan antara stimulus yang satu dengan lainnya, serta memahami konsep yang mungkin dimunculkan dan banyak sekali konsekuensi yang mungkin timbul akhir respon tersebut. Skinner juga mengemukakan bahwa dengan memakai perubahan-perubahan mental sebagai alat untuk menjelaskan tingkah laris hanya akan menambah rumitnya dilema lantaran perlu klarifikasi lagi.



Teori Berguru Behavioristik

Pengertian Teori Belajar Behavioristik
Teori Behavioristik merupakan perubahan tingkah laris sebagai hasil dari pengalaman. Teori ini bermetamorfosis aliran psikologi berguru yang besar lengan berkuasa terhadap pengembangan teori pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya sikap yang tampak sebagai hasil belajar. Teori behavioristik dengan model kekerabatan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang berguru sebagai individu yang pasif. Respon atau sikap tertentu dengan memakai metode training atau adaptasi semata. Munculnya sikap akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman. Seseorang dianggap telah berguru sesuatu jikalau beliau sanggup mengatakan perubahan perilakunya.

Menurut teori ini dalam berguru yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus ialah apa saja yang diberikan guru kepada pebelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau balasan pebelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak sanggup diamati dan tidak sanggup diukur. Yang sanggup diamati ialah stimulus dan respon, oleh lantaran itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh pebelajar (respon) harus sanggup diamati dan diukur.

Teori ini mengutamakan pengukuran, alasannya ialah pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laris tersebut. Faktor lain yang dianggap penting oleh aliran behavioristik ialah faktor penguatan (reinforcement). Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respon akan semakin kuat. Begitu pula bila respon dikurangi/dihilangkan (negative reinforcement) maka respon juga semakin kuat.

Prinsip-prinsip  Teori Behavioristik
1.Perilaku positif dan terukur mempunyai makna tersendiri, bukan sebagai perwujudan dari jiwa atau mental yang abstrak.
2.Aspek mental dari kesadaran yang tidak mempunyai bentuk fisik ialah pseudo duduk masalah untuk sciene, harus dihindari.
3. Penganjur utama ialah Watson : overt, observable behavior, ialah satu-satunya subyek yang sah dari ilmu psikologi yang benar.
4. Dalam perkembangannya, pandangan Watson yang ekstrem ini dikembangkan lagi oleh para behaviorist dengan memperluas ruang lingkup studi behaviorisme dan risikonya pandangan behaviorisme juga menjadi tidak seekstrem Watson, dengan mengikutsertakan faktor-faktor internal juga, meskipun fokus pada overt behavior tetap terjadi.
5. Aliran behaviorisme juga menyumbangkan metodenya yang terkontrol dan bersifat positivistik dalam perkembangan ilmu psikologi.
6. Banyak jago membagi behaviorisme ke dalam dua periode, yaitu behaviorisme awal dan yang lebih belakangan.

Teori behavioristik merupakan teori yang memakai kekerabatan stimulus-responnya dan menganggap orang yang berguru sebagai individu yang pasif. Teori ini mengutamakan pengukuran, alasannya ialah pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku.

Teori behavioristik tidak mampu menjelaskan situasi berguru yang kompleks, alasannya ialah banyak variabel atau hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan dan/atau berguru yang sanggup diubah menjadi sekedar kekerabatan stimulus dan respon. Pandangan behavioristik juga kurang sanggup menjelaskan adanya variasi tingkat emosi pebelajar, walaupun mereka mempunyai pengalaman penguatan yang sama.

Penerapan teori behaviroristik yang salah dalam suatu situasi pembelajaran menjadikan terjadinya proses pembelajaran yang sangat tidak menyenangkan bagi siswa yaitu guru sebagai central, bersikap otoriter, komunikasi berlangsung satu arah, guru melatih dan memilih apa yang harus dipelajari murid.

Metode behavioristik sesuai untuk perolehan kemampaun yang membutuhkan praktek dan adaptasi juga sesuai diterapkan untuk melatih bawah umur yang masih membutuhkan dominansi tugas orang dewasa.

Teori Berguru Kognitif Sosial


1. Teori Kognitif Sosial
Dalam teori kognitif sosial ini ada 3 variabel yang harus dipertimbangkan. Variabel variabel ini adalah:
Faktor perilaku.
Faktor lingkungan atau disebut juga faktor ekstrinsik.
Faktor personal atau dikenal juga sebagai faktor intrinsik
Tiga variable dalam teori kognitif sosial ini sanggup dikatakan saling berkaitan satu dengan lainnya. Ketiganya merupakan variabel yang secara bersama sama membantu proses berguru untuk terjadi. Suatu pengalaman individu akan bergabung dengan aneka macam macam determinan yang memilih sikap serta faktor lingkungan.

Dalam interaksi antara seseorang dengan lingkungannya, keyakinan manusia, idea dan kompetensi kognitif akan dimodifikasi dan diubah oleh aneka macam rupa faktor eksternal. Contoh pola faktor eksternal ini contohnya ialah orang renta yang memperlihatkan dukungan, lingkungan yang penuh dengan stress atau bisa juga ibarat udara yang panas dan berdebu atau ilkim yang dingin. 

Demikian juga halnya dalam interaksi antara seseorang dengan perilaku. Dalam hal ini, proses kognitif seseorang akan mempengaruhi perilakunya. Dmikian pula halnya ialah kinerja dari sikap yang demikian akan mengubah bagaimana cara seseorang berpikir.

Pada karenanya ialah interaksi antara lingkungan dengan perilaku. Faktor eksternal sanggup mengubah bagaimana seseorang berperilaku. Demikian juga sebaliknya, sikap seseorang juga sanggup mempengaruhi dan memperlihatkan perubahan terhadap lingkungan yang berada di sekitarnya.

Dengan demikian maka model ini secara terang mengimplikasikan bahwa biar proses berguru yang efektif dan mendorong k earah yang kasatmata sanggup terjadi, maka suatu individu seharusnya mempunyai karakteristik personal yang bersifat positif, memperlihatkan sikap yang semestinya dan juga berada di dalam lingkungan yang memperlihatkan dukungan.

Sebagai tambahannya, teori kognitif sosial menyebutkan bahwa pengalaman gres harus dievaluasi oleh suatu individu yang berada dalam tahap berguru dengan memakai metode untuk melaksanakan analisa perbandingan terhadap pengalaman yang pernah dialami sebelumnya. Perlu diingat bahwa pengalaman yang pernah dialamu sebelumnya yang dipakai dalam analisa ini harus mempunyai determinan yang sama.

Oleh alasannya ialah itu, maka berdasarkan teori kognitif sosial, proses pembelajaran sendiri merupakan hasil dari penilaian yang seksama dan mendalam terhadap pengalaman yang dialami kini ini dibandingkan dengan pengalaman yang telah dialami sebelumnya

Konsep dasar yang diusung oleh teori kognitif sosial ini tidak hanya sanggup dilihat pada individu yang telah dewasa, namun sanggup juga diamati pada bayi, anak anak dan remaja. Konsep dasar dalam teori kognitif social adalah:
1. Pembelajaran dengan Observasi
Secara singkatnya ini merupakan suatu proses untuk memperoleh pelajaran dari orang lain yang dilakukan dengan mengamati apa yag mereka lakukan. Proses ini sanggup dikatakan merupakan cara yang efektif bagi suatu individu untuk memperoleh pengetahuan gres dan juga mengubah perilaku
2. Reproduksi
3. Kemajuan diri
4. Penanganan Emosional
5. Kemampuan Mengatur Diri Sendiri

Teori Kognitif Behavioral Atau Perilaku

2. Teori Kognitif Behavioral atau Perilaku
Pada dasarnya teori kognitif sikap ini menjelaskan ihwal peranan dan imbas dari kognisi atau mengetahui dalam memilih dan memperikirakan ihwal rujukan tingkah laris dari suatu individu.
Dasar dari teori ini dikembangkan oleh Aaron Beck.
Teori Kognitif Behavioral mengataan bahwa para individu cenderung untuk membentuk suatu konsep langsung yang akan menunjukkan imbas terhadap tingkah laris yang mereka tunjukkan. Konsep konsep ini sanggup bersifat nyata dan negatif. Selain itu, aneka macam macam konsep ini juga sanggup mensugesti lingkungan di mana seseorang berada.
Selanjutnya teori kognitif behavioral ini menjelaskan ihwal tingkah laris insan dan proses berguru dengan memakai apa yang disebut dengan “triad kognitif”.

Seorang psikolog akan mencoba untuk mengubah rujukan fatwa dari pasien yang berpikir bahwa mereka mempunyai kelebihan berat tubuh dengan tujuan untuk mengurangi sikap tidak sehat yang dihasilkannya.

Psikologi kognitif mulai berkembang secara pesat semenjak tahun 1950an terutama pada pertengahan tahun 50an. Perkembangan psikologi kognitif dalam psikologi modern sendiri dimulai ejak tahun 1948 pada saat Norbert Wiener menerbitkan bukunya yang berjudul “Cybernetics: or Control and Communication in the Animal and the Machine”. Dalam bukunya tersebut, Wiener memperkenalkan istilah istilah gres menyerupai input dan output.
Lebih lanjut, juga pada tahun 1948, Tolman menerbitkan risetnya yang berkaitan dengan pemetaan kognitif, adalah melatih tikus tikus untuk berjalan dalam sebuah labirin. Dengan melalui eksperimennya tersebut, Tolman mengambil kesimpulan bahwa binatang juga mempunyai representasi internal dari tingkah laku.

Kemudian lahirnya psikologi kognitif sendiri sering kali ditujukan pada insiden yang terjadi pada tahun 1956, adalah pada dikala terbitnya buku dari George Miller yang berjudul “The Magical Number 7 plus or Minus 2”. Perkembangan dari psikologi kognitif sendiri didukung dengan pendirian Center for Cognitive Studies atau Pusat untuk Penelitian Kognitif di Harvard. Pusat penelitian ini didirikan oleh Miller bersama dengan Jerome Bruner pada tahun 1960. Jerome Bruner sendiri merupakan salah satu pengembang teori kognitif yang terkenal.

Secara resminya, pendekatan kognitif dalam psikologi sanggup dikatakan dimulai pada tahun 1967. Hal ini ditandai dengan diterbitkannya buku dari Ulrich Neisser yang berjudul “Cognitive Psychology”. Dalam buku ini, Neisser menempatkan istilah psikologi kognitif dalam penggunanaan secara luas dan umum. Lebih lanjut, definisi dari kognisi berdasarkan Neisser menunjukkan citra dari suatu konsep yang progresif pada dikala itu akan konsep dari proses kognitif.

Istilah kognisi sendiri mengacu kepada aneka macam macam proses yang mana rangsangan indera yang diterima kemudia diubah , dikurangi, ditambahkan, disimpan, diambil kembali dan digunakan. Hal ini bekerjasama dengan aneka macam proses bahkan pada dikala mereka beroperasi walaupun tanpa adanya stimulasi yang relevan, menyerupai gambar dan halusinasi. Dengan definisi yang demikian luas, maka menjadi terang bahwa kognisi melibatkan seluruh hal yang insan mungkin untuk lakukan.
Dengan demikian maka fenomena psikologi secara keseluruhan merupakan fenomena kognitif. Walaupun psikologi kognitif berkaitan dengan seluruh acara insan dan bukan hanya sebagian darinya.

Kemudian, pada tahun 1968, Atkinson dan Siffrin lalu membuatkan model yang menjelaskan ihwal proses dari memori. Perkembangan ini dilanjutkan oleh Newell dan Simon yang pada tahun 1972 kemudian membuatkan “General Problem Solver”.

Baca juga :

Proses Mental Dalam Psikologi Kognitif

Proses Mental dalam Psikologi Kognitif
Fokus utama dari para psikolog yang mengusung teori pembelajaran kognitif yaitu proses mental yang mempengaruhi tingkah laris dari manusia. Proses mental yang dimaksud yaitu sebagai berikut:
1. Perhatian
Definisi perhatian berdasarkan ilmu psikologi merupakan suatu keadaan kesadaran yang terfokuskan pada suatu perangkat dari informasi yang tersedia secara perseptual. Fungsi kunci dari perhatian yaitu untuk mengidentifikasi data yang tidak relevan dan memfilter informasi tersebut. Dengan demikian maka data penting yang ada akan sanggup diditribusikan kepada proses mental lainnya. Contohnya otak insan sanggup secara berkesinambungan mendapatkan informasi suara, visual, rasa dan sentuhan.
Otak insan sanggup menangani hanya sedikit dari seperangkat informasi ini dan ini sanggup tercapai melalui proses perhatian.

Perhatian cenderung mengacu pada informasi yang bersifat visual ataupun pendengaran. Satu titik focus utama yang berkaitan dengan perhatian di dalam bisang psikologi kognitif yaitu konsep dari perhatian yang terbagi. Sejumlah penelitian terdahulu yang mempelajari ihwal kemampuan seseorang yang mengenakan headphones untuk memahami pembicaraan yang bermakna pada dikala dihadapkan dengan pesan yang diterima dari pendengaran yang lain. Hal ini dikenal dengan pendengaran dikostik.
Hal utama yang ditemukan melalui penelitian ini melibatkan pemahaman yang lebih dalam akan kemampuan pikiran untuk menunjukkan fokus kepada satu pesan dan pada dikala yang sama juga tetap mempunyai kesadaran akan informasi yang diterima dari pendengaran yang tidak diberikan perhatian secara sadar.

Contoh dalam eksperimen ini yaitu contohnya para penerima yang diberikan headphone akan diberitahu bahwa mereka akan mendengarkan dua informasi yang berbeda di masing masing telinga. Kemudian, mereka hanya diperlukan untuk menunjukkan perhatian mengenai informasi yang terkait dengan bola basket. Pada dikala eksperimen dimulai, pesan ihwal bola basket akan diperdengerkan melalui pendengaran kiri dan pesan lainnya akan diperdengerkan melalui pendengaran kanan.

Setelah beberapa waktu, informasi terkait bola basket akan dipindahkan ke pendengaran kanan dan informasi lain yang tidak relevan akan diperdengarkan di pendengaran sebelah kiri. Pada dikala ini terjadi, para penerima umumnya bisa untuk mengulangi seluruh pesan pada dikala eksperimen berakhir terlepas dari dikala mereka mendengarkan pesan tersebut. Kemampuan untuk menunjukkan perhatian kepada satu pembicaraan pada dikala banyak pembicaraan berlangsung dikenal dengan “cocktail party effect”.

2. Ingatan
Seara umum ada 2 macam ingatan yaitu ingatan jangka pendek dan ingatan jangka panjang. Para psikolog dalam bidang psikologi kognitif lebih sering memperlajari ingatan jangka pendek.
a. Ingatan jangka pendek
Ingatan ini sanggup didefinisikan sebagai kemampuan untuk mengingat informasi pada dikala dihadapkan dengan gangguan. Kapasitas ingatan secara umum dikenal sebagai 7 kurang atau lebih 2 yaitu merupakan kombinasi dari ingatan jangka pendek dan ingatan jangka pnjang.
Dalam salah satu eksperimen klasik yng dilakukan oleh Ebbinghaus, ditemukan bahwa informasi dari awal dan tamat dari daftar sejumlah kata yang disusun secara acak lebih sering diingat dibandingkan dengan kata yang berada di tengah. Hal ini dikenal sebagai “serial position effect”. Ini merupakan kurva yang berbentuk U dan sanggup diganggu dengan kata kata yang menraih perhatian, umumnya dikenal dengan “Von Restorff Effect”.
Banyak model dari ingatan jangka pendek yang telah dibuat. Salah satu model yang paling populer yaitu model yang dibentuk oleh Baddeley dan Hitch. Model ini menunjukkan pertimbangan terhadap stimulus visual dan pendengaran. Ingatan jangka panjang dipakai sebagai suatu rujukan dan merupakan sentra pemrosesan untuk menggabungkan dan memahami semuanya.

b. Ingatan jangka panjang
Konsep modern dari ingatan secara umum biasanya yaitu ihwal ingatan jangka panjang yang terbagi dalam 3 sub kategori, yaitu:
Ingatan Procedural
Ingatan yang diperoleh sebagai hasil dari melaksanakan tindakan tertentu. Hal ini seringkali diaktifkan oleh suatu level kesadaran yang rendah atau membutuhkan tingkat kesadaran yang minimal. Ingatan procedural mencakup inforasi yang bersifat stimulus dan ransangan yang diaktifkan melalui asosiasi dengan kiprah dan acara rutin tertentu. Seseorang biasanya memakai pengetahuan procedural pada dikala mereka secara otomatis menunjukkan jawaban terhadap situasi atau proses tertentu.

3. Persepsi
Pembentukan persepsi melibatkan indera fisik menyerupai indera pengelihatan, indera penciuman, indera penciuman dan indera perasa serta proses kognitif. Proses kognitif dipakai untuk mengintepretasikan rangsangan yang diterima oleh seluruh indera tersebut.
Pada dasarnya, insan memahami lingkungan sekeliling mereka melalui intepretasi dari stimulus yang diterima. Para psikolog terdahulu menyerupai Edward B. Tichener mulai bekerja dengan persepsi dalam pendekatan mereka yang bersifat strukturalis terhadap ilmu psikologi.
Dewasa ini, perspektif akan persepsi dalam psikologi kognitif cenderung berfokus kepada cara tertentu di mana pikiran insan mengintepretasikan stimulus yang diterima oleh indera dan bagaimanakah intepretasi tersebut mempengaruhi perilaku.

4. Bahasa
Para psikolog telah semenjak usang mempunyai minat terhadap proses kognitif yang melibatkan bahasa. Tepatnya yaitu semenjak tahun 1870an pada dikala Carl Wenicke mengajukan sebuah model untuk proses mental dari bahasa.
Karya ihwal bahasa yang lebih sekarang bervariasi dengan luas. Para psikolog kognitif mempelajari akuisisi bahasa, pembentukan komponen individual dari bahasa menyerupai phonem, bagaimana penggunaan bahasa terlibat dalam mood serta banyak sekali bidang lainnya yang terkait.

Karya yang signifikan yang terbaru berkaitan dengan akuisisi bahasa dan bagaimanakah itu dipakai untuk memilih apakah seorang anak mempunyai atau beresiko mempunyai gangguan dalam belajar

Teori Berguru Kognitif

Teori berguru kognitif  merupakan sebuah teori yang luas dan mencoba untuk menjelaskan perihal proses berpikir dan banyak sekali proses mental. Selain itu, teori berguru kognitif juga menjelaskan  bagaimana banyak sekali proses mental ini dipengaruhi oleh faktor faktor yang berasal dari internal dan eksternal untuk menghasilkan pembelajaran secara individu.

Pada dikala proses kognitif bekerja secara normal, maka akuisisi dan penyimpanan pengetahuan akan bekerja dengan baik dan semestinya. Namun, pada dikala proses kognitif ini tidak efektif, maka penundaan dalam proses berguru dan banyak sekali kesulitan dalam berguru akan sanggup terlihat.

Proses yang terjadi berdasarkan teori berguru kognitif adalah observasi, pengkategorian dan pembentukan pendapat umum perihal lingkungan kita. Gangguan yang terjadi dalam proses kognitif alami akan mengakibatkan duduk masalah dalam sikap suatu individu dan hal yang menjadi factor kunci dalam menangani duduk masalah ini terletak pada bagaimana mengubah proses yang terganggu tersebut.

Contohnya ialah bagaimana seseorang dengan gangguan sikap makan bekerjsama mempercayai bahwa mereka mempunyai berat tubuh yang berlebih. Beberapa dari mereka merupakan hasil dari gangguan kognitif yang terjadi sebagai tanggapan dari persepsi terhadap berat tubuh mereka sendiri yang terganggu.

Teori berguru kognitif menjelaskan bagaimana otak manusia, yang merupakan jaringan paling jago untuk memproses dan mengintepretasikan warta yang dipakai oleh insan pada dikala mempelajari banyak sekali hal. Secara umum, teori berguru kognitif sanggup dibagi dalam 2 bab besar yang lebih spesifik, yaitu: Teori kognitif sosial dan Teori kognitif behavioral atau perilaku.

Pada dikala kita mendengar kata belajar, maka yang biasanya kita maksud ialah “melakukan proses pemikiran dengan memakai otak”. Konsep yang paling fundamental dari berguru ini merupakan pandangan yang paling utama dari teori berguru kognitif. Teori ini sendiri telah banyak dipakai untuk menjelaskan banyak sekali proses mental yang memperlihatkan efek dan menghipnotis banyak sekali faktor. Faktor faktor intrinsik dan ekstrinsik nantinya akan menghipnotis proses berguru dari suatu individu. 

Teori berguru kognitif memperlihatkan bahwa dengan banyak sekali proses berbeda yang berhubungan, proses berguru sanggup dijelaskan dengan pertama melaksanakan analisa secara mendalam terhadap bermacam proses mental yang terjadi. Selain itu, teori berguru kognitif juga menganjurkan bahwa dengan proses kognitif yang efektif maka proses berguru akan menjadi lebih gampang dan warta gres akan sanggup disimpan dalam ingatan untuk waktu yang sangat lama

arikel terkait :
Teori kognitif sosial 
Teori kognitif behavioral atau perilaku
Proses Mental dalam Psikologi Kognitif

Teori Konstruktivisme

3. Teori Konstruktivism
Teori Konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari
Konstruktivisme bekerjsama bukan merupakan gagasan yang baru, apa yang dilalui dalam kehidupan kita selama ini merupakan himpunan dan pelatihan pengalaman demi pengalaman. Ini menjadikan seseorang memiliki pengetahuan dan menjadi lebih dinamis.
Konsep umum Pendekatan konstruktivisme ibarat :
a.    Pelajar aktif membina pengetahuan berasaskan pengalaman yang sudah ada.
b.    Dalam konteks pembelajaran, pelajar seharusnya membina sendiri pengetahuan mereka.
c.    Pentingnya membina pengetahuan secara aktif oleh pelajar sendiri melalui proses saling memengaruhi antara pembelajaran terdahulu dengan pembelajaran terbaru.
d.    Unsur terpenting dalam teori ini ialah seseorang membina pengetahuan dirinya secara aktif dengan cara membandingkan isu gres dengan pemahamannya yang sudah ada.
e.    Ketidakseimbangan merupakan faktor motivasi pembelajaran yang utama. Faktor ini berlaku apabila seorang pelajar menyadari gagasan-gagasannya tidak konsisten atau sesuai dengan pengetahuan ilmiah.
f.     Bahan pengajaran yang disediakan perlu memiliki perkaitan dengan pengalaman pelajar untuk menarik miknat pelajar.

Menurut teori ini, satu prinsip yang mendasar ialah guru tidak hanya menawarkan pengetahuan kepada siswa, namun siswa juga harus berperan aktif membangun sendiri pengetahuan di dalam memorinya. Dalam hal ini, guru sanggup menawarkan fasilitas untuk proses ini, dengan membri kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan ide-ide mereka sendiri, dan mengajar siswa menjadi sadar dan secara sadar memakai taktik mereka sendiri untuk belajar. Guru sanggup menawarkan siswa anak tangga yang membawasiswa ke tingkat pemahaman yang lebih tinggi dengan catatan siswa sendiri yang mereka tulis dengan bahasa dan kata-kata mereka sendiri.

Makna mencar ilmu berdasarkan konstruktivisme ialah acara yang aktif, dimana pesrta didik membina sendiri pengtahuannya, mencari arti dari apa yang mereka pelajari dan merupakan proses menuntaskan konsep dan idea-idea gres dengan kerangka berfikir yang telah ada dan dimilikinya (Shymansky,1992).

Dalam mengkonstruksi pengetahuan tersebut akseptor didik diharuskan memiliki dasar bagaimana menciptakan hipotesis dan memiliki kemampuan untuk mengujinya, menuntaskan persoalan, mencari balasan dari perkara yang ditemuinya, mengadakan renungan, mengekspresikan wangsit dan gagasan sehingga diperoleh konstruksi yang baru

Baca juga :
Teori Belajar Konstruktivisme Jean Piaget
Teori Belajar Konstruktivisme Vygotsky